7 Perusahaan Besar Hapus Jabatan Manager – dan Produktivitas Mereka Meningkat Drastis

Lo pernah nggak ngerasa: “Gue bisa selesain ini lebih cepet kalau nggak harus nunggu approval si A, terus direview si B, lalu direkap si C.”

Gue sering. Dan ternyata lo nggak sendirian.

April 2026 ini, setidaknya 7 perusahaan besar telah menghapus ribuan jabatan manajer menengah. Bukan karena hemat biaya (walau itu bonus). Tapi karena mereka sadar: manajer selama ini bukan membantu—justru menjadi ‘kemacetan’ terbesar dalam produktivitas.

Dan hasilnya? Produktivitas tim justru meningkat drastis. Aneh? Nggak juga. Mari gue bongkar.


The Great Unbossing: Fenomena 2026

Di era kerja modern, banyak manajer justru terjebak dalam fungsi administratif yang bisa diotomatisasi. Survei menunjukkan bahwa manajer menghabiskan 54% waktu mereka untuk koordinasi dan pelaporan, bukan untuk mengembangkan tim .

Mark Zuckerberg di Meta bahkan mulai menerapkan struktur “ultraflat” dengan hampir tanpa manajer. Karyawan dinilai berdasarkan output dan penggunaan AI, bukan berdasarkan reporting line .

Jack Dorsey, setelah memangkas 4.000 karyawan di Block Inc., secara blak-blakan bilang: “Perusahaan selama ini terlalu bergantung pada layer management untuk mengirim informasi. Dengan AI, struktur itu nggak perlu lagi.” 

Menurut Dorsey, perusahaan ke depan cuma butuh tiga peran: individual contributor (yang ngerjain), DRI (yang punya tanggung jawab final), dan player-coach (yang ngebimbing sambil ngerjain). Sisanya? AI yang koordinasi. 

London Business School juga mencatat tren serupa. Generasi Y (milenial) dan Z punya ekspektasi berbeda ke manajer. Mereka nggak mau bos yang cuma ngasih perintah—mereka mau coach yang bantu mereka berkembang. Kalau manajer nggak bisa kasih value itu? Mending nggak ada. 


Kemacetan yang Nggak Lo Sadari

Kenapa manajer sering jadi kemacetan? Bukan karena mereka jahat. Tapi karena sistemnya memang mendesain mereka untuk jadi bottleneck.

1. The Approval Paralysis

Setiap keputusan butuh tanda tangan. Setiap tanda tangan butuh waktu. Tiga hari berlalu untuk hal yang seharusnya selesai dalam 3 jam.

2. The Information Filter

Informasi dari level bawah harus “dimasak” dulu sama manajer sebelum naik ke atas. Akibatnya? Yang sampai ke pimpinan udah terfilter—kadang malah bias.

3. The Performance Rating Illusi

Tahukah lo bahwa penilaian manajer itu penuh bias? Recency bias (kejadian terakhir yang paling diingat), halo effect (kesan umum mewarnai nilai spesifik), dan similarity bias (orang yang mirip dengan manajer dinilai lebih baik) . Hasilnya? Penilaian yang nggak akurat, dan karyawan jadi frustrasi.

4. The Added Layer Without Added Value

Ini yang paling fatal. Banyak manajer menghabiskan waktu untuk reporting ke atas dan koordinasi ke samping—bukan untuk membantu tim di bawahnya. Mereka jadi “pengantar pesan” berbayar mahal .


3 Contoh Spesifik: Perusahaan yang Sukses Hapus Manajer

Kasus #1 – Zappos: Holacracy yang Kontroversial
Zappos (perusahaan sepatu online, anak perusahaan Amazon) pada 2015 sudah mulai menghapus hirarki dan jabatan. Mereka ganti dengan sistem Holacracy: karyawan dikelompokkan dalam “lingkaran” dengan tanggung jawab terdistribusi, tanpa bos tetap .

CEO Tony Hsieh saat itu bilang: “Ini akan membantu Zappos jadi lebih adaptif terhadap perubahan, dan karyawan lebih bahagia karena punya tanggung jawab lebih besar.”

Hasilnya? Meskipun proses transisinya berantakan di awal, setelah 10 tahun, model ini terbukti meningkatkan employee ownership terhadap hasil kerja. Karyawan nggak nunggu perintah bos—mereka bergerak sendiri karena mereka punya lingkaran tanggung jawabnya.

Kasus #2 – Meta: Tim Superflat dengan AI
Meta di 2026 mengambil langkah lebih ekstrem. Mark Zuckerberg memperkenalkan tim “superflat”: hampir tanpa manajer menengah. Sebagai gantinya, karyawan dinilai dari seberapa baik mereka menggunakan AI untuk mempercepat kerja mereka .

Gimana caranya? Misalnya, seorang engineer nggak perlu nunggu manajer buat allocate resource. AI yang bantu analisis dan rekomendasi. Manusia tetap pegang kendali strategis, tapi eksekusi dan koordinasi dibantu AI.

Awalnya banyak yang protes. Tapi setelah 6 bulan, produktivitas tim engineering Meta naik signifikan—tepatnya, time to market fitur baru turun 30% .

Kasus #3 – Block Inc.: 4.000 Job Cuts dan Visi Dorsey
Jack Dorsey, setelah memangkas 4.000 karyawan di Block (perusahaan induk Cash App dan Square), bilang: “Kami mengganti struktur manajemen tradisional dengan tiga peran: individual contributor, directly responsible individual (DRI), dan player-coach. Sisanya? AI yang koordinasi.” 

Dorsey punya data real-time dari Cash App dan Square yang feed ke sistem AI. AI ini bisa memahami operasi bisnis dan perilaku pelanggan lebih cepat daripada manusia. Maka menurutnya, layer management yang selama ini berfungsi sebagai “penerus informasi” jadi nggak relevan .

Pekerja yang tersisa? Mereka fokus ke outcome, bukan ke reporting. Dan hasil awal menunjukkan: kepuasan karyawan meningkat karena mereka nggak mikirin “bos bakal ngomong apa” tapi “gimana caranya solve masalah.”


Data Pendukung: Bukan Cuma Cerita

  • Studi Gartner (2025) memprediksi bahwa pada 2026, 20% organisasi akan meratakan struktur mereka—menghapus setidaknya satu layer manajemen menengah .
  • London Business School mencatat bahwa teknologi justru memperjelas peran manajer sejati: mereka yang bertahan adalah yang bisa jadi motivatordeveloper of skills, dan connector to resources. Sisanya? Tergusur .
  • Meta sendiri sudah mulai ngasih nilai karyawan berdasarkan penggunaan AI dalam performance review mereka. Artinya? Kemampuan lo pake AI buat ngegas kerja lo sekarang jadi metrik .

Common Mistakes: Gagal Hapus Manajer Karena Salah Strategi

Nggak semua perusahaan sukses. Banyak yang coba “perampingan” tapi gagal. Kenapa?

1. Lo hapus manajer, tapi lo nggak ganti dengan sistem baru

Holacracy atau struktur flat itu bukan “nggak ada bos”. Itu adalah redistribusi tanggung jawab. Kalau lo cuma hilangin title “manager” tapi semua keputusan tetep harus lewat 5 orang yang sama? Percuma. 

2. Lo lupa ngelatih karyawan buat mandiri

Budaya learned helplessness itu nyata. Selama 10 tahun karyawan terbiasa nunggu perintah bos. Tiba-tiba bos ilang? Mereka panik. Perusahaan harus investasi di coaching dan psychological safety—karena tanpa itu, feedback nggak akan jujur dan tim nggak akan bergerak .

3. Lo tetep pake performance review model lama

Di Holacracy atau struktur flat, performance review tradisional nggak jalan. Karena nggak ada bos yang “tahu pekerjaan lo paling baik.” Alternatifnya? Peer feedback, *360-degree review*, atau role-based evaluation .

Kesalahan terbesar adalah coba nyari “pengganti manager” untuk nge-review. Padahal pertanyaan yang benar adalah: “Gimana caranya ngatur feedback biar orang bisa berkembang?” Bukan “Siapa pengganti manager?” 


Practical Tips: Lo Bisa Mulai Sekarang (Tanpa Nunggu Perusahaan)

Lo nggak perlu nunggu CEO lo baca artikel ini. Lo bisa mulai dari level tim lo sendiri:

1. Death to the Approval Chain

Coba identifikasi satu keputusan kecil yang selama ini selalu butuh approval manager. Usulkin ke tim: “Gimana kalau untuk X, kita pake aturan ‘disapprove only’? Artinya, kalau dalam 2 jam nggak ada yang veto, dianggap approve.”
Lu bakal kaget seberapa cepat gerak tim lo.

2. Adopsi “Directly Responsible Individual” (DRI) Model

Dorsey pake ini . Untuk setiap proyek, tunjuk satu DRI—bukan manager, tapi individual contributor yang punya tanggung jawab final. DRI nggak ngasih perintah. Dia nge-push informasi dan unblock masalah. Sederhana, tapi ampuh.

3. Ganti Reporting dengan Async Update

Hilangkan meeting status mingguan yang buang waktu. Ganti dengan async update: tiap orang nulis 3 poin di Slack/Notion (Apa yang udah selesai? Apa yang lagi dikerjain? Ada hambatan apa?). Manager baca dalam 15 menit. Nggak perlu meeting 1 jam.

4. Minta Peer Feedback, Bukan Cuma dari Atasan

Mulai minta feedback dari rekan setim lo—bukan cuma dari bos. Formatnya simpel: “Apa yang harus aku lebih banyak lakuin? Lebih sedikit lakuin? Teruskan?” Ini lebih jujur daripada feedback dari atasan yang biasanya udah difilter .

5. Kalau Lo Manajer: Beranilah Jadi “Player-Coach”

Dorsey nyebut ini . Jangan cuma jadi “pengawas.” Lo harus tetep ngoding, nulis, atau desain—ikut ngerjain bareng tim. Dengan gitu, lo ngerti real problem, bukan cuma laporan. Dan tim lo bakal respect karena lo ngerjain kerjaan kotor bareng mereka.


Tapi… Emang Manajer Nggak Dibutuhkan Sama Sekali?

Nggak. Kita tetep butuh manajer.

Tapi manajer yang berbeda.

London Business School bilang: peran manajer di 2026 dan seterusnya bukan lagi supervisor atau reporter. Tapi: motivator, struktur kerja yang engaging, pengembang skill, pengaman akses sumber daya, dan penghubung antar bagian organisasi .

Atau dengan kata lain: manajer yang fokus ke manusia, bukan ke kertas.

Sementara untuk koordinasi, tracking, dan reporting? Itu kerjaan AI. 

Dan perlu dicatat: nggak semua perusahaan cocok dengan struktur tanpa manager. Industri dengan risiko tinggi (medis, konstruksi, penerbangan) mungkin tetap butuh hirarki jelas. Tapi untuk knowledge work seperti tech, marketing, kreatif, desain? Struktur flat ini ujiannya sedang berlangsung.


Kesimpulan (Buat Lo yang Cari Jawaban Cepat)

Jadi gini: 7 perusahaan besar hapus jabatan manajer dan produktivitas mereka naik karena:

  1. Manajer selama ini jadi bottleneck approval.
  2. Banyak fungsi manajerial (tracking, reporting, koordinasi) bisa diotomatisasi AI.
  3. Karyawan generasi baru lebih mandiri dan nggak butuh “pengawas” — mereka butuh “coach”.

Ini bukan berarti semua manajer jahat. Ini berarti sistem yang membuat manajer jadi macet itu yang salah.

Jadi kalau lo karyawan: lo bisa mulai gerak lebih cepet tanpa nunggu bos. Kalau lo manajer: beranilah jadi player-coach, bukan sekadar pengirim email.

Karena ke depan, yang bertahan bukan yang punya jabatan. Tapi yang punya value.

Lo setuju nggak? Coba diskusi sama tim lo besok pagi