Dua bulan sudah. Bayangin, dua bulan lamanya hidup di tenda, nggak tahu kapan gempa berikutnya datang, dan setiap kali tanah bergoyang, jantung langsung berdegup kencang. Ini bukan cuma soal logistik. Bukan cuma soal tenda, makanan, atau air bersih. Ini tentang perang psikologis. Sebuah pertarungan yang nggak kelihatan, tapi setiap hari dirasakan oleh 5.000 jiwa yang masih mengungsi pascagempa dahsyat di Flores.
Daripada cuma ngitung jumlah bantuan atau kerusakan bangunan, gue pengen ngajak lo masuk ke dalam kepala para pengungsi. Karena di sinilah medan pertempuran yang sesungguhnya.
Fakta Guncangan: Bukan Sekadar Angka
Sejak gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang pada 15 Agustus 2026 , bumi di Flores seolah nggak mau diam. BMKG mencatat 1.624 gempa susulan dengan kekuatan mulai dari magnitudo 1,3 sampai 6,2 . Dari jumlah itu, 59 kali gempa susulan benar-benar dirasakan oleh masyarakat . Bayangin, setiap hari ada getaran. Nggak heran kalo sampai sekarang, 5.000 orang masih memilih tinggal di pengungsian .
Dan ini bukan cuma soal angka. Ini soal trauma lama yang kembali terbuka.
Luka Lama yang Tak Pernah Sembuh: Trauma 1992
Buat banyak warga Flores, gempa bukan pengalaman baru. Pada tahun 1992, gempa berkekuatan 7,5 melanda pulau yang sama dan menewaskan sekitar 2.500 orang . Bayangin, 2.500 nyawa melayang. Rumah-rumah rata dengan tanah. Tsunami datang tanpa ampun. Bagi yang selamat, kenangan itu nggak pernah hilang.
Deputi Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, bilang bahwa sebagian masyarakat masih bertahan di pengungsian bukan cuma karena rumahnya rusak, tapi karena “kondisi psikologis di mana gempa susulan masih terasa” . Mereka yang selamat dari 1992 tahu betul apa yang bisa terjadi.
Seorang pengungsi bernama Nurhidayati, 55 tahun, ngaku masih ketakutan. “Saya masih sangat takut; memikirkan gempa kemarin, jantung saya masih berdebar kencang… Saya sangat takut, gempa 1992 masih membekas. Saya takut pulang,” katanya dari pengungsian . Asia Yusuf, 52 tahun, bahkan bilang, “Setiap hari (sejak gempa), rasanya seperti ini,” sambil merasakan tanah berguncang lagi .
“Perang Psikologis” di Tenda Pengungsian
Inilah perang yang nggak kelihatan. Perang melawan ketakutan sendiri.
Setiap kali gempa susulan terjadi—entah itu besar atau kecil—semua orang di pengungsian panik. Seperti yang diceritakan Muhamad Yasin, seorang pengungsi dari Marapokot, “Ketika berguncang sedikit saja, kami panik” . Ini bukan reaksi berlebihan. Ini adalah respons alami dari manusia yang udah terlalu sering melihat kematian.
Bayangin juga hidup di tenda selama dua bulan. Sulistiyah, seorang ibu tiga anak, bilang mereka terlalu takut untuk pulang . Takut terkubur reruntuhan. Takut tsunami datang lagi. Hidup di pengungsian juga nggak mudah. Asia Yusuf mengeluh, “Karena (air) nggak cukup, kami cuma mandi sekali dua hari” . Ini adalah perang di dua front: melawan trauma masa lalu dan melawan kerasnya hidup di pengungsian.
Harapan di Tengah Keterbatasan: Trauma Healing
Tapi, di tengah semua ini, ada upaya untuk memenangkan perang psikologis ini. Polda NTT mengirimkan Tim Psikologi ke posko-posko pengungsian . Di Gelora Samador, Kabupaten Sikka, mereka melakukan trauma healing . Bukan cuma kasih nasihat, tapi mereka main, ngobrol, dan ngasih hiburan. Anak-anak diajak bermain, dan pelan-pelan, tawa mereka mulai terdengar lagi .
Kompol Prasetyo Dwi Laksono, yang memimpin tim, bilang kegiatan ini bertujuan “mengurangi rasa takut dan kecemasan setelah mengalami bencana” . Kapolda NTT bahkan menekankan bahwa penanganan bencana harus menyeluruh, termasuk “dukungan psikologis agar mereka mampu melewati rasa takut dan trauma akibat gempa” .
Tips: Menghadapi “Perang Psikologis” Bencana
Nah, buat lo yang mungkin sedang membantu pengungsi atau bahkan tinggal di daerah rawan bencana, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
- Jangan Meremehkan Trauma. Bencana itu bukan cuma soal fisik. Luka psikologis bisa bertahan bertahun-tahun. Dengerin cerita mereka dengan sabar. Jangan bilang “udah, lupakan aja”. Itu nggak membantu.
- Libatkan Anak-anak. Mereka adalah kelompok yang paling rentan. Ajak mereka bermain, menggambar, atau bernyanyi. Ini membantu mereka mengalihkan perhatian dari rasa takut .
- Sediakan “Ruang Aman”. Bukan cuma tenda fisik, tapi ruang di mana mereka bisa merasa aman dan didengar. Tim trauma healing dari Polda NTT menciptakan “suasana yang lebih hangat dengan terbangunnya kebersamaan” .
- Berikan Informasi yang Jelas. Ketidakpastian adalah musuh utama kesehatan mental. Jelaskan tentang gempa susulan dengan jujur, tapi juga beri tahu mereka tentang langkah-langkah keselamatan. BMKG punya kanal resmi yang bisa diakses .
Kesalahan yang Sering Terjadi
- Menganggap “Udah Biasa”. “Ah, warga Flores udah biasa sama gempa.” Ini salah besar. Pengalaman 1992 membuat mereka justru lebih rentan terhadap trauma baru.
- Cuma Fokus pada Bantuan Fisik. Makanan dan tenda itu penting, tapi tanpa dukungan psikologis, pemulihan nggak akan pernah selesai.
- Menyebarkan Hoaks. BMKG sampai harus meluruskan info soal prediksi gempa yang beredar di medsos. Hoaks cuma bikin ketakutan makin parah .
Penutup: Lebih dari Sekadar Bangunan
Gempa Flores ini mengingatkan kita bahwa bencana bukan cuma soal bangunan yang roboh. Ini tentang manusia yang hidupnya hancur dan harus dibangun kembali dari nol. “Perang psikologis” yang dihadapi 5.000 pengungsi ini adalah medan tempur yang nggak kelihatan, tapi dampaknya bisa lebih panjang dari gempa itu sendiri.
Proses stabilisasi sesar bisa memakan waktu dua sampai tiga minggu, kata BMKG . Tapi pemulihan psikologis? Itu bisa bertahun-tahun. Makanya, kita semua punya tanggung jawab untuk nggak cuma mengirim bantuan, tapi juga memberikan perhatian, mendengarkan, dan membantu mereka melawan ketakutan yang terus menghantui. Karena pada akhirnya, pemulihan sejati dimulai dari hati yang tenang.
